CHAPTER 1 . DI Musim panas itu.
Mentari yang bersinar terang
....angin yang bertiup membelai dengan lembut....suara jangkrik yang berdendang
di hari yang cukup panas....aku rasa ini akan menjadi hari yang sangat indah.
Dika ..... begitulah orang menyebutku,
aku kelas 2 SMA di salah satu SMA di kota ini. Meskipun hanya ada satu SMA
dikota ini sih. Meski kota ini kecil aku banyak
bersenang-senang di kota ini. Aku lebih menyukai kota kecil ini dari pada kota
yang padat penduduk serta banyak polusi.
“♫♫♫♪!!” hp -ku berdering di sakuku,
aku segera mengangkat telepone yang masuk itu
“ada apa rin?” tanyaku dangan spontan
“profesor mernyuruh kita datang ke
lab-nya!”
“paling dia hanya menyuruh kita untuk
bantuin bersih-bersih lagi!”
“ya memangsih tiap kita di suruh
datang pasti di suruh bersih-bersih.... pokonya datang aja deh siapatau di mau
memberi sesuatu atau menunjukan penemuan barunya.”
“profesor yang itu..... ga mungkin-ga
mungkin. Dari dia datang kemari dia gak pernah memberi sesuatu atau bahkan upah.
Kalao nunjukin penemuannya paling gagal lagi.”
“benar juga sih.....pokonya datang
dulu deh!”
Di sini banyak yang
menyenangkan.....apa lagi saat datangnya profesor itu. Dia terus membuat
alat-alat yang cukup hebat tapi tidak pernah satupun penemuannya yang sukses.
Coontohnya saja penemuannya baru-baru
ini....sepatu yang bisa membuat kita berjalan di air. Awalnya memang bisa
berjalan di air tapi baru di pakai sepuluh menit mesinnya bocor dan kemasukan
air akhirnya malah koslet dan meleda. Kakiku langsung sakit selama seminggu
waktu itu.
Terkadang .......ah tidak kurasa
sering kali dia menyuruhku untuk membantunya membersihkan penemuannya yang
gagal atupun hanya membersihkan ruangannya yang kotor. Meskipun begitu entah
kenapa aku tidak bisa menolak, mungkin aku merasa senang.
Di sebuah gedung tua di sanalah dia
tinggal bersama dengan lab penelitiannya... aku berjalan masuk perlahan....
seperti biasa di sini sangat banyak debu seperti tidak ada sorangpun yang
tinggal. Aku beranjak keruangannya.
“prof!!! Masih hidup? Dia tidak ada
di sini....apa dia ada di lab ya?!” aku menuruni tangga dan masuk ke rung bawah
tanah di mana labnya berada.
Di lab itu sangat gelap bahkan aku
tidak bisa melihat apa yang ada di depanku atau pun dibawahku.. bagai mana
kalau aku menginjak sesuatu? Aku segera menyalakan lampu.
“nana!! Kau baik-baik saja?” aku
berteriak dan langsung menghampirinya.
Seorang gadis kecil tergeletak di
sana. Gadis itu adalah profesor yang tinggal disini. Nana itulah nama dari
frofesor itu. Dia datang setahun yang lalu dengan kebingungan, dia sangat
pendek bahkan saat pertama kali melihatnya aku mengira kalau dia itu anak SD
yang tersesat...ternyata dia itu 3 tahun lebih tua dariku.
Aku menggangkat nana dan
membaringkannya di atas sofa, Dan menyelimutinya. Saat aku mengagkatnya dia
terasa sangat ringan dari pada yang kukira. Saat aku sudah menyelimutinya
secara bersamaan arin datang.
“di-di-dika! aku tidak percaya.
Ternya ta kau mempunyai complex pada anak kecil.” Arin sedikit terkejut dan menutupi
mulutnya dengan terkejut.
“eh?” aku sedikit bingung dengan
tingkah arin lalu aku menengok ke arah nana dan kembali lagi ke arah arin.
“tu-tunggu kau salah paham.” Aku
berteriak sambil melambaikan tanganku.
“dasar lolicom....pedofil!! PK!”
“ada apa-ada apa!” reni datang
menghampiri dengan nada penasaran sekaligus senang.
Reni, dia adalah salah satu teman
sejak kecilku. Rambutnya pendek....dia sangat suka pelajaran olahraga dan
sangat jago di bidang itu. Tapi dia kurang pandai dalam hal materi. Dari pada
seperti perempuan dia lebih terlihat seperti lai-laki.
“oi tunggu dong!” riki datang dengan
terburu-buru.
Riki, adik kembar rani, berbeda
dengan kakaknya dia lebih suka pelajaran marteri apa lagi di bidang hafalan dia
sangat pintar dibidang itu tapi kurang pintar di budang olahraga. Karena hal
itu dia sangat populer di kalangan perempuan. Tapi terkadang aku merasa aneh
dia masih belum mendapatkan seorang pacar.
“ki tolonging dong!” aku berteriak
minta tolong
“kau ngapain lagi dika!! penyakit pedo-mu kambuh lagi!!”
“sudah ku bilang aku bukan lolicom
apa lagi pedofil!!!’ aku berteriak dengan sangat kencang hinga suaraku
terdengar sampai ke luar.
***
Setelah itu aku menjelaskan kepada
mereka apa yang terjadi.... saat aku masuk nana sudah tergeletak di sana...
meskipun aku juga penasaran dia bisa tidur di sana.
“oh gitu! Ga seru ah.. kalo dika gak
jadi pk” reni berbicara dengan nada malas sambil meletakan tangan nya di
kepala.
“sudah kubilang aku ini gak pernah
punya complex!” aku berbicara sedikit kesal.
(Lolicom [ lolita complex ] /pedofil :
penyuka anak kecil)
Saat aku sedang berbicara, nana mulai
sadarkan diri dan melihat sekelilingnya seperti orang bingung.
“nana kau tidak apa-paa?” arin
langsung mendekati nana dengan cemas.
“ku rasa aku baik-baik saja! Aku
kurang ingat kenapa aku ada di sini ku rasa terakhir kali aku ada di
ruanganku!” nana masih terllihat bingung apa yang terjadi dengannya.
“kesampingkan dulu itu... kenapa kau
memanggil kami semua kesini?” aku bertanya pada nana alasannya memanggil kami
semua kesini.
“kesampingkan dulu itu?” arin
menyipitkan matanya ke arahku dengan tatapan sinis.
“emm... apa ya..... ah aku lupa! taapi tolong bantu aku membersihkan tempat ini supaya
bersih kembali.” Nana meminta kami membantunya untuk membersihkan lab-nya. Saat nana meminta tolong dia lebih terlihat seperti anak
kecil dari pada seorang profesor.
“iya-iya kami bantu!” aku
mengelus-elus kepala nana
“tu! Jangan sentuh kepalaku.” Nana
ngambek sembari berusaha menyingkirkan tanganku dari kepalanya.
Akhirnya kami di panggil kesini hanya
untuk membantunya untuk membersihkan labnya lagi. Tapi aku masih penasaran
alasan sebenarnya dia memanggil kami semua kesini.
Kami mulai membersihkan labnya. Di
sana sangat lah berdebu saat aku menyapunya debu-debu berterbangan hingga
membuatku batuk.
“nana kenapa kau memilih tingga di
sini? Kenapa kau tidak menyewa apartemen?”
“kurasa karena gratis! Lagi pula
tempat ini punya temanku dan dia memberikannya padaku dengat beberapa syarat.”
“syarat? Apa itu?”
“rahasia!”
Sebenarnya aku mau menanyakan hal ini
dari dulu. kenapa dia memilih kota ini? Dari segi fasilitas
di sini hanya ada serba satu! Pembangkit listrik, sekolah bahkan menara
telekomunikasi. Tapi mengapa dia masih memilih kota ini?
Aku sedikit memikirkan itu dan
membuatku sedikit melamun.
“dika jangan melamun saja! Cepat
bantu!”
“maaf!”
Sepertinya bukan saatnya aku
memikirkan itu.
Akhirnya kami selesai membereskan
tempat ini dan segera merapikan sapu dan lap ke tempatnya. Tapi aku kembali
melamun saat itu.
“dika kau dari tadi melamu! Apa kau
sakit?” arin bertanya cemas
“ah tidak! maaf membuatmu khawatir
tapi sepertinya aku lupa mengerjakan sesuatu sebelum mengerjakan ini.”
Aku berusaha memikirkan apa yang lupa
aku kerjakan...... sepertinya aku harus mengerjakannya sesegeramungkin......
“ahhhhhhhhh ----------------------”
aku berteriak spontan dengan sangat keras
“dika kau kenapa lagi?” riki bertanya
padaku
“paling dia hamya lupa mengerjakan PR
liburannya!” reni dengan spontan mengatakannya.
“.............” aku terdiam dan sedit
menoleh kearah lain karena apa yang di katakan reni itu benar dan aku tidak
bisa membalasnya sama sekali.
“uah.....itu gawat kan? Liburan
tinggal dua hari lagi kan.”
“memangnya kau sudah? Berbicara
seperti itu!”
“aku...? aku sudah mengerjakannya kok........ ah tentu saja di bantu riki.” Reni berbicara dengan
santai sembari menggandeng riki. Aku ragu kalau dia merbicara seeperti itu
hanya untuk bohong.
"sial bahkan si cewe tomboi udah
ngerjain!!" aku tersujud lemas
“siapa yang kau panggil cewe
tomboi....” reni sedikit tersinggung saat ku bilang si cewe tomboi.
“maaf-maaf.... jadi.... tolong bantu
aku! Arin.... riki....” aku memohon pada rani dan riki.
“iya-iya nanti kami bantu!”
Kami pamitan pada nana sekaligus aku
minta maaf acra makan-makan yang biasa di lakukan setelah membereskan tempat
ini. Dan pergi ke rumah ku untuk membantuku mengerjakan PR liburan ku.
“maaf ya nana kami pamit ya!”
“iya!! Nanti kalau aku ingat apa yang
inggin ku sampaikan nanti akan ku hubungi.”
“iya!”
***
“yang ini pake rumus ini....” arin
mengajariku sambil menunjukan cara mengerjakannya
“oh gitu!”
Arin mengajari ku matematika sedangkan riki
mengajariku bahasa inggris.... aku sangat tertolong oleh mereka. Tugasku
juga lebih cepat terselesaikan
Aku selesai mengerakan soal matematika-ku. Rasa bangga sekaligus senang
karena ini adalah pertama kalinya aku mengerjakan tugas habis-habisan.
Saat aku sedang berbaring sebentar
untuk mendingin kan kepalaku yang sudah menguap
“domm ––––“ terdengar sebuah ledakan
dari arah pantai.
“paling nelayan yang pake bom laut
lagi!”
Di sini sering kali ada nelayan yang
memakai bom laut untuk mengkap ikan. Karena menggunakan bom laut bisa merusak
trumbu karang, jadi pemakaian bom laut sudah di ilegalkan dan nelayan yang
memakai bom laut akan langsung di tangkap.
“bukannya semua nelayan yang biasa
memakai bom laut sudah di tangkap? Lagi pula udah ada undang-undangnya
menangkap ikan dengan bom laut!’ arin mulai sedikit panik
“sudah kubilangkan itu hanya ne.....”
aku beranjak dari tempat duduku dan menghampiri jendela kamarku, aku membuka
jendela perlahan lalu menengok ke arah pantai.
“semuanya kita pergi ke tempat nana
sekarang! Aku punya pirasat buruk dengan ledakan tadi.!” Aku berbicara dengan
nada panik sekaligus takut.
“sekarang?” riki bertanya dengan nada
serius
“ya! Sekarang juga!”
Kami segera bergegas menuju lab di
mana nana berada. Saat di jalan HP ku berdering dan ternyata itu telepone dari
nana dengan segera aku langsung mengangkatnya sambil terus berlari.
“kau baik-baik saja?”
“ya aku baik-baik saa! Yang
terpenting kau dengar ledakan tadi?”
“ya aku mendengarnya! Aku mempunyai
firasat buruk tentang ledakan tadi! Sebenarnya apa yang
akan terjadi?”
“ini se..... a....pro.... Tutttttttt
––––––––––––”
“NANA! NANA! NANA! sebenarnya apa yang terjadi di sini!” aku berbicara
cemas
“dika itu!” riki menunjuk ke arah
menara Telkom.
“menaranya.......! Tunggu apa yang menghantamnya itu? Pesawat.... tidak
itu..... satelit!!”
“dika ayo kita cepat ke lab!”
“iya!”
Kami segera bergegas pergi ke arah
lab di mana nana berada tapi saat aku sampai semuanya sudah terlambat, bangunan
itu sudah porak-poranda . lagi-lagi di hantam benda besar dan sekarang sebuah
pendorong roket. Jika seseorang berada di dalam sana tidak salah lagi dia akan
hancur berkeping-keping.
“tidak! Kenapa ini terjadi!” arin
berteriak lemas sekaligus sedih, air matanya tidak bisa di bendunng lagi.
Aku tidak pernah mengharapkan hari
seperti ini.. apa tuhan mengutukku....
Aku berlari ke arah reruntuhan dan
berusaha mencari nana di sana. Mengangkat batua-batu kecil maupun besar aku
tidak peduli seberapa lelahnya itu. Aku hanya ingin menemukannya
tanpa menyerah sedikitpun.
“dika! sudahlah.. terlalu berbahaya
di sini!” reni berusaha menarikku menjauh dari sana. Tapi aku tidak akan
menyerah sekalipun.
Arin datang menghampiriku dan memulai
memegangi bauhuku dan.....
“plak!!!!!” suara tamparan yang
sangat keras berasal dariku.
“sudak cukup! Aku tau kau sangat
menyayanginya.... dia memang mirip sekali dengan adikmu yang meninggal 1 tahun
yang lalu.... tapi! aku tidak akan menerimanya jika kau terluka!’
“kalau gitu! Katakan padaku apa yang
harus kulakukan! Aku tidak ingin kehilangannya sekali lagi!”
“aku ingin kau hidup! Kalau itu memang berat, berbagilah
kepada kami. Bukan kah kita ini teman! Kan..?” arin meenunjukan senyumannya yang sangat tulus kepadaku.
“......! huuaaaaaaaa!! .....” aku
berteriak dengan sangat....sangat kencang. Seketika hujanpun turun menemaniku
manangis.
Kami pergi berteduh di bawah pohon di
dekat tempat nana. Aku masih berusaha menenangkan diriku dan berusaha untuk
tetap tenang.
Dengan hancurnya menara telkom!
Telekomunikasi di kota ini sudah lumpuh total.
“kau sudah sedikit tenang!” arin
bertanya cemas
“yah! Trima kasih untuk yang tadi!”
“tidak aku juga pasti akan merasa
sama jika aku di posisimu!”
“begitu ya! Pokoknya trima kasih!”
Aku sangat berterima kasih pada arin
yang telah menenangkan ku dari penderitaan itu lagi.
Aku terus memperhatikan puing-puing
tempat itu. Mungkin aku masih berharap kalau nana masih hidup, saat itu
pung-ping tergeser dan batuan kecil menggelinding kebawah. Secara tiba-tiba
keluar sedikit cahaya keluar dari sela-sela puing-puing itu.
“tunggu apa itu?” aku bernjak dari
tempatku duduk.
“dika jangan ke sana dulu! Bahaya!”
reni berusaha tidak menghiraukannya.
Aku berusaha mengoreh asal cahaya itu
dan ternyata.... cahaya itu datang dari salah satu kotak penemuannya yang gagal
mungkin ini tergeletak dan ikut tersapu sehingga masuk kotak ini. Karena ini
terlihat sangat bagus.
Di dalam kotak itu terdapat 4 buah
gelang, tentu saja aku tahu kalau dia repot-repot membuat 4 buah untuk kami.
Kurasa ini penemuan terakhirnya. Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu
dan memperbaiki semuanya seperti semual.
Aku mengambil salah satu gelang itu
dan memakainya di tanganku.... saat aku memasangnya di tanganku aku tidak sadar
kalau bangunan yang ada di atasku mulai retak. Arin yang menyadari itu berlari
ke arahku dan langsung mendorongku.
“eh?” aku yang terkejut secara
spontan melihat ke arah arin yang mendorongku. Dia terjatuh dan tertimpa
reruntuhan bangunan itu. Tapi...... kenapa dia....apa-apan wajah puamu itu.
“uuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh!!!
Arin––––––––––––––––”
Rasa sakitku semakin bertambah.
Rasanya seperti di tikam pisau secara bertubi-tubi tanpa henti.
Seminggu setelah itu aku masih tidak
bisa menerima apa yang telah terjadi waktu itu... apa yang terjadi pada nana
dan pada arin itu semua adalah salah ku andai saja aku tidak pernah ada.......
Keaadan arin sekarang masih koma di
rumah sakit, begitu pula aku yang masih tidak bisa menerima apa yang
telah terjadi hari itu.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!! ting!!
Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi berulang-ulang.
“oi dika!! cepat buka!! Dika!!”
“hei jangan terlalu brisik! Nanti
mengganggu tetangga!”
“diam kau riki! Aku lagi kesal dengan
tingkahnya itu!”
“sudah ku bilang diam dan ikut aku”
Sejenak suara mereka menghilang dan
beberapa saat kemudian aku mendengar suara di pintu belakang dan datang lah
reni dan riki.
“dika!! mau sampai kapan kau seperti
ini!!” reni datang dengan wajah yang sangat marah
“ biar kan saja aku....... Lagian apa
yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan kalian!” aku berbicara dengan nada
yang datar.
Setelah mengatakan itu aku langsung
mendapatkan pukulan sekuat tenaga reni yang langsung mengarah pada wajahku,
pukulan itu langsung membuatku terpental.
“kau tau apa yang kau katakan itu!”
“sudah cukup kak! Kita pergi dari
sini!” riki berusaha menyeret reni pergi keluar rumahku.
“riki kenapa kau menghentikanku?”
“dengan berbicara begitu juga sudah
cukup tinggal dianya sendiri yang akan menyadarinya.” Riki dan reni berjalan
pulang.
Saat reni dan riki keluar aku masih
termenung di sana saat aku melirik di sana terlihat sebuah kotak gelang yang di buat oleh nana dan di sana masih ada 3 gelang buah dan satu lagi aku pakai.
Apakah mungkin ini karma
dari tuhan? Semakin aku melihat gelang-gelang ini..... ha ha mungkin ini sangat
ironis.
Esokharinya aku mulai sekolah karena
libur panjang sudah lama usai, jika absenku bertambah kemungknan besar aku dikeluarkan.
Mungkin ini aneh bagiku untuk memikirkan dikeluarkan dari sekolah.
Saat aku berada di sekolah aku
bertemu dangan reni begitu pula riki aku hanya bisa memandang mereka dari jauh.
Mungkin saat itu di dalam hatiku yang terdalam aku berharap bisa berbicara lagi
dengan mereka.
Pulang sekolah aku berjalan ke
rumahku, terpintas dalam benakku bagai mana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?
Bagai mana kalau dia nanti membenciku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terbenak
di kepalaku.
Saat aku terus memikirkan itu kakiku
sudah melangkah ke arah rumah sakit di mana arin dirawat dan segera menanyakan
ke pada suster di mana tempat arin dirawat lalu langsung pergi ke ruangan yang
di sebut suster itu.
Saat aku sampai di kamar di mana arin
di rawat kakiku langsung lemas tak bertenaga.
“eh? Ke-kenapa?” tubuhku menjadi tak
bertenaga sama sekali, rasa bersalah masih menyelimuti ku.
Aku menguatkan tenagaku dan juga
batinku untuk membuka pintu kamarnya, saat ku buka
di sana hanya ada Arin sendiri terbaring ta berdaya, gadis yang
dulu sering tertawa kini hanya bisa berbaring di atas kasur tanpa ada yang
menemani.
Aku masih tidak bisa mengalahkan rasa
bersalahku aku hanya bisa
memasang gelang itu padanya tapa bisa
melakukan hal lain nya dan langsung pergi dari sana.
Dirumah aku hanya menonton tv,
membersihkan rumah dan malas-malasan. Begitula rutinitasku setiap hari selama 2
minggu dan sepanjang itu arin tidak kunjung sadarkan diri.
Hampir 3 minggu sejak hari di mana
kejadian itu..... menara telekomunikasi sudah di betulkan meskipun dengan
menara sementara.. seperti biasa aku sedang membersihkan rumahku.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!!
ting!! Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi lagi.
Aku memeriksa keluar dan ternyata
reni , mereka terus mengunjungiku setiap 2 hari sekali dan hanya memencet bel rumahku saja karena aku
tidak pernah datang untuk menghamprinya.
“dika!! dika!! keluarlah aku tau kau
ada di dalam!!!” reni berteriak padaku di depan rumahku, berbeda
dengan saat aku belum keluar! Kali ini reni pergi setelah aku mengabaikannya
cukup lama.
“ah~ akhirnya mereka pergi!” ak
menarik nafas lega. Entah kenapa saat aku pikir-pikir sikapku sekarang sepeerti
orang yang sedang di tagih hutang.
“ngg––––––––––––––––––––––––––––––––––––“
suara dengingan itu terdengar sekejap di kepalagu kemudian badan ku
terasa menginghilang sekejap dari dunia ini dan kembali lagi.
Aku tidak pernah inging merasakan
sensasi seperti ini lagi tapi yang kurasakan ini adalah nyata, aku segera
mengambil kotak gelang yang nana buat dan sesegera mungkin menyusul reni dan
riki.
“kumohon! Jangan pernah terjadi
sesuatu dengan mereka!” aku terus berlari sekuat tenaga.
Saat aku merasakan sesuatu
yang buruk akan terjadi kepalaku selalu berdenging keras, entah kenapa hal ini
seperti sebuah pesan dari dalam di riku untuk mulai bertindak.
Aku mulai berlari mengejar
reni, Saat berlari aku mendengar
suara gerumuh saat itu aku berpikir akan hujan dan
spontan mlihat keatas, bukan hujan yang kulihat lagi-lagi sebuah sampah luar
angkasa akan jatuh lagi.
Dari kejauhan aku melihat reni
sendiri tanpa di temani riki. Ada ssuatu yang aneh dari reni,
Reni sedang berjalan lemas aku tak tau apa yang sedang jadi bebannya.
“reni!!!!!!” aku berteriak sambil
berlari.
Saat aku berlari aku sadar apa yang
kulakukan ini adalah hal yang sia-sia meskipun aku berhasil mengapainya aku dan
reni akan langsung hancur berkeping-keping, tapi aku menghiraukan itu dan tidak
peduli apa yang terjadi padaku asal kan bias mneyelamatkannya.
Reni menoleh ke arah ku dan kelihatan
sangat lega tapi---- sebuah serpihan satelit tepat di belakannya aku
berusaha mati-matian menuju arahnya tapi tidak akan sempat!
“domm ––––“ ledakan cukup besar terjadi.
Meskipun puing-puing itu
kecil daya hempasnya hampir memiliki radius 100 meter.
Ledakan terjadi dan hempasan ledakan
iru membuatku terpental ke atas dan seketika itu aku sadar bahwa aku akan mati.
Saat aku merenungkan itu terjadilah sebuah keajaiban.
Semua yang ada di sekelilingku
melambat! Seakan sebuah
video yang sedak di putar bali. Semua gambar yang terlihat olehku di paksa di
putar balik dan tanpa sadar aku sudah ada di di rumahku.
Hal yang baru saja terjadi seperti
hanya sebuah ilusi belaka.
“delusi?” aku berpikir itu
semua hanya sebuah hayalanku.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!! ting!!
Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi lagi.
Aku sadar yang diluar itu pasti Reni tanpa bersama Riki.
“eh? Kenapa aku bisa
berpikir seperti itu?”
“dika!! dika!! keluarlah aku tau kau
ada di dalam!!!” reni berteriak padaku di depan rumahku, aku berusaha
menghampirinya tapi saat aku melihat keluar dia sudah pergi.
“Sial!
Meskipun itu hanya ilusi! Aku tidak akan pernah membiarkannya mati.” Aku
seasegera mungkin untuk menyusulnya.
Saat berlari aku mendengar suara
gerumuh, aku sadar yang terjadi saat itu adalah kenyataan dan aku kembali
kemasa lalu berkat gelang nana.
Dari kejauhan aku melihat reni
sendiri tanpa di temani riki. Terlihat Reni yang sedang
berjalan lemas.
“reni!!!!!!” aku berteriak sekuat
tenaga.
Reni menoleh dan sebuah serpihan
satelit ada di belakangnya aku berlari aku percaya bahwa kali ini aku akan
menggapainya.
Dangan sekejap mata aku sudah dekat
dengan reni.
“oke aku sudah tau
konsepnya!” kali ini aku langsung berada di depan reni.
“kita pergi dari sini!” aku langsung membawa reni ala putri dan
melakukan lompatan lagi menuju ke langit.
“dommm!!!”
suara ledakan terdengar
Daerah sekitarnya langsung
porak poranda.
Saat aku melihat kota dari atas aku
sadar bahwa kota ini memang benar-benar kecil sehingga menghilangpun mungkin
tidak akan ada yang sadar kalau sebelumnya ada kota di sini!
“DIKA A-NYA KA- DATA- -GA!!”Reni
berbicara tapi aku tidak terlalu mendengarnya dengan jelas karena hembusan
angin yang cukup kencang.
“APA!!!!! AKU TAK
MENDENGAR MU!!”
“TIDAK ADA!!! LUPAKAN
SAJA!NGOMONG-NGOMONG KITA JATUH KAN!!?”
“NGAKK JUGA!!!” aku melakukan
lompatan lagi dan kita sudah berada di atas tanah.
“tuhkan ngak jatuh!” aku menurunkan
reni perlahan.
“brugh!!!” reni langsung memeluku
hingga membuatku terjatuh!
“syukurlah kau kembali!!!” reni
menguatkan pelukannya.
“tu- ren tenang dulu! Reni pleas
lepaskan dulu! Kalo gini terus bisa-bisa aku mati!” aku tercekik oleh pelukan
reni yang luarbiasa kuat.
“ma-maaf!” reni melepaskan
pelukannya.
“iya-iya! Oh iya! Nih penemuan nana yang
terakhir dan mungkin satu-satunya yang berhasil.!!”
“eh? Tunggu dulu! Bagaimana
mungkin gelang ini bekerja? Apa ini
yang membuat kau bisa melakukan hal yang seperti tadi?” reni kelihatan sangat
bingung atau mungkin cemas dari pada bingung.
Aku menjelaskan apa yang
kurasakan tadi, mungkin itu semua percuma. Dan siapa juga yang akan percaya
dengan omonganku ini.
“ok..... ayo kita coba
hentikan semua ini.!” Reni meregangkan tubuhnya lalu memakai gelangnya itu.
“tu-tunggu kau langsung
percaya?” aku sedikit bingung dengan tingkahnya.
“meskipun kau berbohong!
Aku tetap akan percaya padamu!” terdengar suara tulus dari reni yang
menghangatkan hatiku.
“jika
terjadi apa-apa jangan salahkan aku ya!”
Jika
aku jadi reni mungkin aku tak akan mendengarkan semua omong kosong ini,
Dasar
dia itu selalu membuatku kagum sejak kecil...
Di
musim panas itu ch.1 [end]
CHAPTER 1 . DI Musim panas itu.
Mentari yang bersinar terang
....angin yang bertiup membelai dengan lembut....suara jangkrik yang berdendang
di hari yang cukup panas....aku rasa ini akan menjadi hari yang sangat indah.
Dika ..... begitulah orang menyebutku,
aku kelas 2 SMA di salah satu SMA di kota ini. Meskipun hanya ada satu SMA
dikota ini sih. Meski kota ini kecil aku banyak
bersenang-senang di kota ini. Aku lebih menyukai kota kecil ini dari pada kota
yang padat penduduk serta banyak polusi.
“♫♫♫♪!!” hp -ku berdering di sakuku,
aku segera mengangkat telepone yang masuk itu
“ada apa rin?” tanyaku dangan spontan
“profesor mernyuruh kita datang ke
lab-nya!”
“paling dia hanya menyuruh kita untuk
bantuin bersih-bersih lagi!”
“ya memangsih tiap kita di suruh
datang pasti di suruh bersih-bersih.... pokonya datang aja deh siapatau di mau
memberi sesuatu atau menunjukan penemuan barunya.”
“profesor yang itu..... ga mungkin-ga
mungkin. Dari dia datang kemari dia gak pernah memberi sesuatu atau bahkan upah.
Kalao nunjukin penemuannya paling gagal lagi.”
“benar juga sih.....pokonya datang
dulu deh!”
Di sini banyak yang
menyenangkan.....apa lagi saat datangnya profesor itu. Dia terus membuat
alat-alat yang cukup hebat tapi tidak pernah satupun penemuannya yang sukses.
Coontohnya saja penemuannya baru-baru
ini....sepatu yang bisa membuat kita berjalan di air. Awalnya memang bisa
berjalan di air tapi baru di pakai sepuluh menit mesinnya bocor dan kemasukan
air akhirnya malah koslet dan meleda. Kakiku langsung sakit selama seminggu
waktu itu.
Terkadang .......ah tidak kurasa
sering kali dia menyuruhku untuk membantunya membersihkan penemuannya yang
gagal atupun hanya membersihkan ruangannya yang kotor. Meskipun begitu entah
kenapa aku tidak bisa menolak, mungkin aku merasa senang.
Di sebuah gedung tua di sanalah dia
tinggal bersama dengan lab penelitiannya... aku berjalan masuk perlahan....
seperti biasa di sini sangat banyak debu seperti tidak ada sorangpun yang
tinggal. Aku beranjak keruangannya.
“prof!!! Masih hidup? Dia tidak ada
di sini....apa dia ada di lab ya?!” aku menuruni tangga dan masuk ke rung bawah
tanah di mana labnya berada.
Di lab itu sangat gelap bahkan aku
tidak bisa melihat apa yang ada di depanku atau pun dibawahku.. bagai mana
kalau aku menginjak sesuatu? Aku segera menyalakan lampu.
“nana!! Kau baik-baik saja?” aku
berteriak dan langsung menghampirinya.
Seorang gadis kecil tergeletak di
sana. Gadis itu adalah profesor yang tinggal disini. Nana itulah nama dari
frofesor itu. Dia datang setahun yang lalu dengan kebingungan, dia sangat
pendek bahkan saat pertama kali melihatnya aku mengira kalau dia itu anak SD
yang tersesat...ternyata dia itu 3 tahun lebih tua dariku.
Aku menggangkat nana dan
membaringkannya di atas sofa, Dan menyelimutinya. Saat aku mengagkatnya dia
terasa sangat ringan dari pada yang kukira. Saat aku sudah menyelimutinya
secara bersamaan arin datang.
“di-di-dika! aku tidak percaya.
Ternya ta kau mempunyai complex pada anak kecil.” Arin sedikit terkejut dan menutupi
mulutnya dengan terkejut.
“eh?” aku sedikit bingung dengan
tingkah arin lalu aku menengok ke arah nana dan kembali lagi ke arah arin.
“tu-tunggu kau salah paham.” Aku
berteriak sambil melambaikan tanganku.
“dasar lolicom....pedofil!! PK!”
“ada apa-ada apa!” reni datang
menghampiri dengan nada penasaran sekaligus senang.
Reni, dia adalah salah satu teman
sejak kecilku. Rambutnya pendek....dia sangat suka pelajaran olahraga dan
sangat jago di bidang itu. Tapi dia kurang pandai dalam hal materi. Dari pada
seperti perempuan dia lebih terlihat seperti lai-laki.
“oi tunggu dong!” riki datang dengan
terburu-buru.
Riki, adik kembar rani, berbeda
dengan kakaknya dia lebih suka pelajaran marteri apa lagi di bidang hafalan dia
sangat pintar dibidang itu tapi kurang pintar di budang olahraga. Karena hal
itu dia sangat populer di kalangan perempuan. Tapi terkadang aku merasa aneh
dia masih belum mendapatkan seorang pacar.
“ki tolonging dong!” aku berteriak
minta tolong
“kau ngapain lagi dika!! penyakit pedo-mu kambuh lagi!!”
“sudah ku bilang aku bukan lolicom
apa lagi pedofil!!!’ aku berteriak dengan sangat kencang hinga suaraku
terdengar sampai ke luar.
***
Setelah itu aku menjelaskan kepada
mereka apa yang terjadi.... saat aku masuk nana sudah tergeletak di sana...
meskipun aku juga penasaran dia bisa tidur di sana.
“oh gitu! Ga seru ah.. kalo dika gak
jadi pk” reni berbicara dengan nada malas sambil meletakan tangan nya di
kepala.
“sudah kubilang aku ini gak pernah
punya complex!” aku berbicara sedikit kesal.
(Lolicom [ lolita complex ] /pedofil :
penyuka anak kecil)
Saat aku sedang berbicara, nana mulai
sadarkan diri dan melihat sekelilingnya seperti orang bingung.
“nana kau tidak apa-paa?” arin
langsung mendekati nana dengan cemas.
“ku rasa aku baik-baik saja! Aku
kurang ingat kenapa aku ada di sini ku rasa terakhir kali aku ada di
ruanganku!” nana masih terllihat bingung apa yang terjadi dengannya.
“kesampingkan dulu itu... kenapa kau
memanggil kami semua kesini?” aku bertanya pada nana alasannya memanggil kami
semua kesini.
“kesampingkan dulu itu?” arin
menyipitkan matanya ke arahku dengan tatapan sinis.
“emm... apa ya..... ah aku lupa! taapi tolong bantu aku membersihkan tempat ini supaya
bersih kembali.” Nana meminta kami membantunya untuk membersihkan lab-nya. Saat nana meminta tolong dia lebih terlihat seperti anak
kecil dari pada seorang profesor.
“iya-iya kami bantu!” aku
mengelus-elus kepala nana
“tu! Jangan sentuh kepalaku.” Nana
ngambek sembari berusaha menyingkirkan tanganku dari kepalanya.
Akhirnya kami di panggil kesini hanya
untuk membantunya untuk membersihkan labnya lagi. Tapi aku masih penasaran
alasan sebenarnya dia memanggil kami semua kesini.
Kami mulai membersihkan labnya. Di
sana sangat lah berdebu saat aku menyapunya debu-debu berterbangan hingga
membuatku batuk.
“nana kenapa kau memilih tingga di
sini? Kenapa kau tidak menyewa apartemen?”
“kurasa karena gratis! Lagi pula
tempat ini punya temanku dan dia memberikannya padaku dengat beberapa syarat.”
“syarat? Apa itu?”
“rahasia!”
Sebenarnya aku mau menanyakan hal ini
dari dulu. kenapa dia memilih kota ini? Dari segi fasilitas
di sini hanya ada serba satu! Pembangkit listrik, sekolah bahkan menara
telekomunikasi. Tapi mengapa dia masih memilih kota ini?
Aku sedikit memikirkan itu dan
membuatku sedikit melamun.
“dika jangan melamun saja! Cepat
bantu!”
“maaf!”
Sepertinya bukan saatnya aku
memikirkan itu.
Akhirnya kami selesai membereskan
tempat ini dan segera merapikan sapu dan lap ke tempatnya. Tapi aku kembali
melamun saat itu.
“dika kau dari tadi melamu! Apa kau
sakit?” arin bertanya cemas
“ah tidak! maaf membuatmu khawatir
tapi sepertinya aku lupa mengerjakan sesuatu sebelum mengerjakan ini.”
Aku berusaha memikirkan apa yang lupa
aku kerjakan...... sepertinya aku harus mengerjakannya sesegeramungkin......
“ahhhhhhhhh ----------------------”
aku berteriak spontan dengan sangat keras
“dika kau kenapa lagi?” riki bertanya
padaku
“paling dia hamya lupa mengerjakan PR
liburannya!” reni dengan spontan mengatakannya.
“.............” aku terdiam dan sedit
menoleh kearah lain karena apa yang di katakan reni itu benar dan aku tidak
bisa membalasnya sama sekali.
“uah.....itu gawat kan? Liburan
tinggal dua hari lagi kan.”
“memangnya kau sudah? Berbicara
seperti itu!”
“aku...? aku sudah mengerjakannya kok........ ah tentu saja di bantu riki.” Reni berbicara dengan
santai sembari menggandeng riki. Aku ragu kalau dia merbicara seeperti itu
hanya untuk bohong.
"sial bahkan si cewe tomboi udah
ngerjain!!" aku tersujud lemas
“siapa yang kau panggil cewe
tomboi....” reni sedikit tersinggung saat ku bilang si cewe tomboi.
“maaf-maaf.... jadi.... tolong bantu
aku! Arin.... riki....” aku memohon pada rani dan riki.
“iya-iya nanti kami bantu!”
Kami pamitan pada nana sekaligus aku
minta maaf acra makan-makan yang biasa di lakukan setelah membereskan tempat
ini. Dan pergi ke rumah ku untuk membantuku mengerjakan PR liburan ku.
“maaf ya nana kami pamit ya!”
“iya!! Nanti kalau aku ingat apa yang
inggin ku sampaikan nanti akan ku hubungi.”
“iya!”
***
“yang ini pake rumus ini....” arin
mengajariku sambil menunjukan cara mengerjakannya
“oh gitu!”
Arin mengajari ku matematika sedangkan riki
mengajariku bahasa inggris.... aku sangat tertolong oleh mereka. Tugasku
juga lebih cepat terselesaikan
Aku selesai mengerakan soal matematika-ku. Rasa bangga sekaligus senang
karena ini adalah pertama kalinya aku mengerjakan tugas habis-habisan.
Saat aku sedang berbaring sebentar
untuk mendingin kan kepalaku yang sudah menguap
“domm ––––“ terdengar sebuah ledakan
dari arah pantai.
“paling nelayan yang pake bom laut
lagi!”
Di sini sering kali ada nelayan yang
memakai bom laut untuk mengkap ikan. Karena menggunakan bom laut bisa merusak
trumbu karang, jadi pemakaian bom laut sudah di ilegalkan dan nelayan yang
memakai bom laut akan langsung di tangkap.
“bukannya semua nelayan yang biasa
memakai bom laut sudah di tangkap? Lagi pula udah ada undang-undangnya
menangkap ikan dengan bom laut!’ arin mulai sedikit panik
“sudah kubilangkan itu hanya ne.....”
aku beranjak dari tempat duduku dan menghampiri jendela kamarku, aku membuka
jendela perlahan lalu menengok ke arah pantai.
“semuanya kita pergi ke tempat nana
sekarang! Aku punya pirasat buruk dengan ledakan tadi.!” Aku berbicara dengan
nada panik sekaligus takut.
“sekarang?” riki bertanya dengan nada
serius
“ya! Sekarang juga!”
Kami segera bergegas menuju lab di
mana nana berada. Saat di jalan HP ku berdering dan ternyata itu telepone dari
nana dengan segera aku langsung mengangkatnya sambil terus berlari.
“kau baik-baik saja?”
“ya aku baik-baik saa! Yang
terpenting kau dengar ledakan tadi?”
“ya aku mendengarnya! Aku mempunyai
firasat buruk tentang ledakan tadi! Sebenarnya apa yang
akan terjadi?”
“ini se..... a....pro.... Tutttttttt
––––––––––––”
“NANA! NANA! NANA! sebenarnya apa yang terjadi di sini!” aku berbicara
cemas
“dika itu!” riki menunjuk ke arah
menara Telkom.
“menaranya.......! Tunggu apa yang menghantamnya itu? Pesawat.... tidak
itu..... satelit!!”
“dika ayo kita cepat ke lab!”
“iya!”
Kami segera bergegas pergi ke arah
lab di mana nana berada tapi saat aku sampai semuanya sudah terlambat, bangunan
itu sudah porak-poranda . lagi-lagi di hantam benda besar dan sekarang sebuah
pendorong roket. Jika seseorang berada di dalam sana tidak salah lagi dia akan
hancur berkeping-keping.
“tidak! Kenapa ini terjadi!” arin
berteriak lemas sekaligus sedih, air matanya tidak bisa di bendunng lagi.
Aku tidak pernah mengharapkan hari
seperti ini.. apa tuhan mengutukku....
Aku berlari ke arah reruntuhan dan
berusaha mencari nana di sana. Mengangkat batua-batu kecil maupun besar aku
tidak peduli seberapa lelahnya itu. Aku hanya ingin menemukannya
tanpa menyerah sedikitpun.
“dika! sudahlah.. terlalu berbahaya
di sini!” reni berusaha menarikku menjauh dari sana. Tapi aku tidak akan
menyerah sekalipun.
Arin datang menghampiriku dan memulai
memegangi bauhuku dan.....
“plak!!!!!” suara tamparan yang
sangat keras berasal dariku.
“sudak cukup! Aku tau kau sangat
menyayanginya.... dia memang mirip sekali dengan adikmu yang meninggal 1 tahun
yang lalu.... tapi! aku tidak akan menerimanya jika kau terluka!’
“kalau gitu! Katakan padaku apa yang
harus kulakukan! Aku tidak ingin kehilangannya sekali lagi!”
“aku ingin kau hidup! Kalau itu memang berat, berbagilah
kepada kami. Bukan kah kita ini teman! Kan..?” arin meenunjukan senyumannya yang sangat tulus kepadaku.
“......! huuaaaaaaaa!! .....” aku
berteriak dengan sangat....sangat kencang. Seketika hujanpun turun menemaniku
manangis.
Kami pergi berteduh di bawah pohon di
dekat tempat nana. Aku masih berusaha menenangkan diriku dan berusaha untuk
tetap tenang.
Dengan hancurnya menara telkom!
Telekomunikasi di kota ini sudah lumpuh total.
“kau sudah sedikit tenang!” arin
bertanya cemas
“yah! Trima kasih untuk yang tadi!”
“tidak aku juga pasti akan merasa
sama jika aku di posisimu!”
“begitu ya! Pokoknya trima kasih!”
Aku sangat berterima kasih pada arin
yang telah menenangkan ku dari penderitaan itu lagi.
Aku terus memperhatikan puing-puing
tempat itu. Mungkin aku masih berharap kalau nana masih hidup, saat itu
pung-ping tergeser dan batuan kecil menggelinding kebawah. Secara tiba-tiba
keluar sedikit cahaya keluar dari sela-sela puing-puing itu.
“tunggu apa itu?” aku bernjak dari
tempatku duduk.
“dika jangan ke sana dulu! Bahaya!”
reni berusaha tidak menghiraukannya.
Aku berusaha mengoreh asal cahaya itu
dan ternyata.... cahaya itu datang dari salah satu kotak penemuannya yang gagal
mungkin ini tergeletak dan ikut tersapu sehingga masuk kotak ini. Karena ini
terlihat sangat bagus.
Di dalam kotak itu terdapat 4 buah
gelang, tentu saja aku tahu kalau dia repot-repot membuat 4 buah untuk kami.
Kurasa ini penemuan terakhirnya. Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu
dan memperbaiki semuanya seperti semual.
Aku mengambil salah satu gelang itu
dan memakainya di tanganku.... saat aku memasangnya di tanganku aku tidak sadar
kalau bangunan yang ada di atasku mulai retak. Arin yang menyadari itu berlari
ke arahku dan langsung mendorongku.
“eh?” aku yang terkejut secara
spontan melihat ke arah arin yang mendorongku. Dia terjatuh dan tertimpa
reruntuhan bangunan itu. Tapi...... kenapa dia....apa-apan wajah puamu itu.
“uuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh!!!
Arin––––––––––––––––”
Rasa sakitku semakin bertambah.
Rasanya seperti di tikam pisau secara bertubi-tubi tanpa henti.
Seminggu setelah itu aku masih tidak
bisa menerima apa yang telah terjadi waktu itu... apa yang terjadi pada nana
dan pada arin itu semua adalah salah ku andai saja aku tidak pernah ada.......
Keaadan arin sekarang masih koma di
rumah sakit, begitu pula aku yang masih tidak bisa menerima apa yang
telah terjadi hari itu.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!! ting!!
Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi berulang-ulang.
“oi dika!! cepat buka!! Dika!!”
“hei jangan terlalu brisik! Nanti
mengganggu tetangga!”
“diam kau riki! Aku lagi kesal dengan
tingkahnya itu!”
“sudah ku bilang diam dan ikut aku”
Sejenak suara mereka menghilang dan
beberapa saat kemudian aku mendengar suara di pintu belakang dan datang lah
reni dan riki.
“dika!! mau sampai kapan kau seperti
ini!!” reni datang dengan wajah yang sangat marah
“ biar kan saja aku....... Lagian apa
yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan kalian!” aku berbicara dengan nada
yang datar.
Setelah mengatakan itu aku langsung
mendapatkan pukulan sekuat tenaga reni yang langsung mengarah pada wajahku,
pukulan itu langsung membuatku terpental.
“kau tau apa yang kau katakan itu!”
“sudah cukup kak! Kita pergi dari
sini!” riki berusaha menyeret reni pergi keluar rumahku.
“riki kenapa kau menghentikanku?”
“dengan berbicara begitu juga sudah
cukup tinggal dianya sendiri yang akan menyadarinya.” Riki dan reni berjalan
pulang.
Saat reni dan riki keluar aku masih
termenung di sana saat aku melirik di sana terlihat sebuah kotak gelang yang di buat oleh nana dan di sana masih ada 3 gelang buah dan satu lagi aku pakai.
Apakah mungkin ini karma
dari tuhan? Semakin aku melihat gelang-gelang ini..... ha ha mungkin ini sangat
ironis.
Esokharinya aku mulai sekolah karena
libur panjang sudah lama usai, jika absenku bertambah kemungknan besar aku dikeluarkan.
Mungkin ini aneh bagiku untuk memikirkan dikeluarkan dari sekolah.
Saat aku berada di sekolah aku
bertemu dangan reni begitu pula riki aku hanya bisa memandang mereka dari jauh.
Mungkin saat itu di dalam hatiku yang terdalam aku berharap bisa berbicara lagi
dengan mereka.
Pulang sekolah aku berjalan ke
rumahku, terpintas dalam benakku bagai mana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?
Bagai mana kalau dia nanti membenciku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terbenak
di kepalaku.
Saat aku terus memikirkan itu kakiku
sudah melangkah ke arah rumah sakit di mana arin dirawat dan segera menanyakan
ke pada suster di mana tempat arin dirawat lalu langsung pergi ke ruangan yang
di sebut suster itu.
Saat aku sampai di kamar di mana arin
di rawat kakiku langsung lemas tak bertenaga.
“eh? Ke-kenapa?” tubuhku menjadi tak
bertenaga sama sekali, rasa bersalah masih menyelimuti ku.
Aku menguatkan tenagaku dan juga
batinku untuk membuka pintu kamarnya, saat ku buka
di sana hanya ada Arin sendiri terbaring ta berdaya, gadis yang
dulu sering tertawa kini hanya bisa berbaring di atas kasur tanpa ada yang
menemani.
Aku masih tidak bisa mengalahkan rasa
bersalahku aku hanya bisa
memasang gelang itu padanya tapa bisa
melakukan hal lain nya dan langsung pergi dari sana.
Dirumah aku hanya menonton tv,
membersihkan rumah dan malas-malasan. Begitula rutinitasku setiap hari selama 2
minggu dan sepanjang itu arin tidak kunjung sadarkan diri.
Hampir 3 minggu sejak hari di mana
kejadian itu..... menara telekomunikasi sudah di betulkan meskipun dengan
menara sementara.. seperti biasa aku sedang membersihkan rumahku.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!!
ting!! Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi lagi.
Aku memeriksa keluar dan ternyata
reni , mereka terus mengunjungiku setiap 2 hari sekali dan hanya memencet bel rumahku saja karena aku
tidak pernah datang untuk menghamprinya.
“dika!! dika!! keluarlah aku tau kau
ada di dalam!!!” reni berteriak padaku di depan rumahku, berbeda
dengan saat aku belum keluar! Kali ini reni pergi setelah aku mengabaikannya
cukup lama.
“ah~ akhirnya mereka pergi!” ak
menarik nafas lega. Entah kenapa saat aku pikir-pikir sikapku sekarang sepeerti
orang yang sedang di tagih hutang.
“ngg––––––––––––––––––––––––––––––––––––“
suara dengingan itu terdengar sekejap di kepalagu kemudian badan ku
terasa menginghilang sekejap dari dunia ini dan kembali lagi.
Aku tidak pernah inging merasakan
sensasi seperti ini lagi tapi yang kurasakan ini adalah nyata, aku segera
mengambil kotak gelang yang nana buat dan sesegera mungkin menyusul reni dan
riki.
“kumohon! Jangan pernah terjadi
sesuatu dengan mereka!” aku terus berlari sekuat tenaga.
Saat aku merasakan sesuatu
yang buruk akan terjadi kepalaku selalu berdenging keras, entah kenapa hal ini
seperti sebuah pesan dari dalam di riku untuk mulai bertindak.
Aku mulai berlari mengejar
reni, Saat berlari aku mendengar
suara gerumuh saat itu aku berpikir akan hujan dan
spontan mlihat keatas, bukan hujan yang kulihat lagi-lagi sebuah sampah luar
angkasa akan jatuh lagi.
Dari kejauhan aku melihat reni
sendiri tanpa di temani riki. Ada ssuatu yang aneh dari reni,
Reni sedang berjalan lemas aku tak tau apa yang sedang jadi bebannya.
“reni!!!!!!” aku berteriak sambil
berlari.
Saat aku berlari aku sadar apa yang
kulakukan ini adalah hal yang sia-sia meskipun aku berhasil mengapainya aku dan
reni akan langsung hancur berkeping-keping, tapi aku menghiraukan itu dan tidak
peduli apa yang terjadi padaku asal kan bias mneyelamatkannya.
Reni menoleh ke arah ku dan kelihatan
sangat lega tapi---- sebuah serpihan satelit tepat di belakannya aku
berusaha mati-matian menuju arahnya tapi tidak akan sempat!
“domm ––––“ ledakan cukup besar terjadi.
Meskipun puing-puing itu
kecil daya hempasnya hampir memiliki radius 100 meter.
Ledakan terjadi dan hempasan ledakan
iru membuatku terpental ke atas dan seketika itu aku sadar bahwa aku akan mati.
Saat aku merenungkan itu terjadilah sebuah keajaiban.
Semua yang ada di sekelilingku
melambat! Seakan sebuah
video yang sedak di putar bali. Semua gambar yang terlihat olehku di paksa di
putar balik dan tanpa sadar aku sudah ada di di rumahku.
Hal yang baru saja terjadi seperti
hanya sebuah ilusi belaka.
“delusi?” aku berpikir itu
semua hanya sebuah hayalanku.
“ting!! Tong!! ting!! Tong!! ting!!
Tong!! ting!! Tong!!” suara bel rumahku berbunyi lagi.
Aku sadar yang diluar itu pasti Reni tanpa bersama Riki.
“eh? Kenapa aku bisa
berpikir seperti itu?”
“dika!! dika!! keluarlah aku tau kau
ada di dalam!!!” reni berteriak padaku di depan rumahku, aku berusaha
menghampirinya tapi saat aku melihat keluar dia sudah pergi.
“Sial!
Meskipun itu hanya ilusi! Aku tidak akan pernah membiarkannya mati.” Aku
seasegera mungkin untuk menyusulnya.
Saat berlari aku mendengar suara
gerumuh, aku sadar yang terjadi saat itu adalah kenyataan dan aku kembali
kemasa lalu berkat gelang nana.
Dari kejauhan aku melihat reni
sendiri tanpa di temani riki. Terlihat Reni yang sedang
berjalan lemas.
“reni!!!!!!” aku berteriak sekuat
tenaga.
Reni menoleh dan sebuah serpihan
satelit ada di belakangnya aku berlari aku percaya bahwa kali ini aku akan
menggapainya.
Dangan sekejap mata aku sudah dekat
dengan reni.
“oke aku sudah tau
konsepnya!” kali ini aku langsung berada di depan reni.
“kita pergi dari sini!” aku langsung membawa reni ala putri dan
melakukan lompatan lagi menuju ke langit.
“dommm!!!”
suara ledakan terdengar
Daerah sekitarnya langsung
porak poranda.
Saat aku melihat kota dari atas aku
sadar bahwa kota ini memang benar-benar kecil sehingga menghilangpun mungkin
tidak akan ada yang sadar kalau sebelumnya ada kota di sini!
“DIKA A-NYA KA- DATA- -GA!!”Reni
berbicara tapi aku tidak terlalu mendengarnya dengan jelas karena hembusan
angin yang cukup kencang.
“APA!!!!! AKU TAK
MENDENGAR MU!!”
“TIDAK ADA!!! LUPAKAN
SAJA!NGOMONG-NGOMONG KITA JATUH KAN!!?”
“NGAKK JUGA!!!” aku melakukan
lompatan lagi dan kita sudah berada di atas tanah.
“tuhkan ngak jatuh!” aku menurunkan
reni perlahan.
“brugh!!!” reni langsung memeluku
hingga membuatku terjatuh!
“syukurlah kau kembali!!!” reni
menguatkan pelukannya.
“tu- ren tenang dulu! Reni pleas
lepaskan dulu! Kalo gini terus bisa-bisa aku mati!” aku tercekik oleh pelukan
reni yang luarbiasa kuat.
“ma-maaf!” reni melepaskan
pelukannya.
“iya-iya! Oh iya! Nih penemuan nana yang
terakhir dan mungkin satu-satunya yang berhasil.!!”
“eh? Tunggu dulu! Bagaimana
mungkin gelang ini bekerja? Apa ini
yang membuat kau bisa melakukan hal yang seperti tadi?” reni kelihatan sangat
bingung atau mungkin cemas dari pada bingung.
Aku menjelaskan apa yang
kurasakan tadi, mungkin itu semua percuma. Dan siapa juga yang akan percaya
dengan omonganku ini.
“ok..... ayo kita coba
hentikan semua ini.!” Reni meregangkan tubuhnya lalu memakai gelangnya itu.
“tu-tunggu kau langsung
percaya?” aku sedikit bingung dengan tingkahnya.
“meskipun kau berbohong!
Aku tetap akan percaya padamu!” terdengar suara tulus dari reni yang
menghangatkan hatiku.
“jika
terjadi apa-apa jangan salahkan aku ya!”
Jika
aku jadi reni mungkin aku tak akan mendengarkan semua omong kosong ini,
Dasar
dia itu selalu membuatku kagum sejak kecil...
musim panas di hari itu ch.1 [end]
oke lanjut ke ch 2 :v
BalasHapus