HUJAN LEBAT DI MALAM HARI

Hari itu adalah malam..... malam yang disertai hujan yang sangat lebat, dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan sedang berteduh di bawah pohonbesar.
Ini hanyalah sebuah cerita kecilku.                                  
“tu-tung reni~ bukan kah kita harus segera pulang?!” rengek ku kepada reni.
“kau ini bodoh ya kalau kita pulang sekarang untuk apa kau lari dari rumah!?”
“.......”aku terdiam tanpa bisa membalas kata-katanya.
Sore tadi aku sedikit bertengkar dengan ayahku, terlintas dalam benakku kalau aku pergipun tidak ada yang dapat masalah.
Setelah kupikir kembali kenapa Reni harus ikut?
“arrrrggggggghhhhhhhhh!!!” suara rauman keras terdengar  keras di dalam hutan.
Ketakutan mulai menyelimuti diriku, aku hanya bisa memegang tangan reni dengan erat. Meskipun aku yang laki-laki ketakutan tapi kali ini reni tidak memarahiku.
Setiap kali aku jadi seorang pengecut aku selalu di marahinya.
“kau itu kurang tegas tau!!”
“kau kan laki-laki!”
Beberapa kalimat yang membuat seorang anak kecil akan terluka hanya dengan kata-kata kecil seperti itu. Tapi dengan kata-katanya itu membuat diriku kuat.
“arrghhhhhhh” suara geraman itu mulai mendekat.
“dika ayo kita cepat lari dari sini.
“.......”aku hanya mengangukkan kepalaku dengan terus memegang tangan reni.
“dika cepatlah! Ahh!!!~~”teriakan reni yang cukup kencanng memancing hewan buas itu datang.
“argghhhhh!”rauman yang semakin jelas membuat kepalaku berpikir kalau itu adalah beruang gunung.
“di-dika kau cepatlah pergi duluan! Nanti aku menyusul!” terdengar suara yang sedikit bergetar dan terasa sangat berat. Saat itu aku langsung berpikir.
Ah~ yang paling takut di sini bukan aku tapi dia......
Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya, meski sempoyongan karena terlalu berat.
“dika turunkan aku....hei~ turunkan~” sering kali dia mengucapkannya tapi aku terus mengabaikannya dan menggendongnya sapai keluar dari hutan.
Di luar hutan ayah dan ibuku sedang menunggu di sana dan ternyata semua ini hanya akal-akalan reni supaya aku bisa meminta maaf kepada orangtuaku, dia hanya seorang gadis kecil tapi dia memperhatikan siapa saja yang berada di dekatnya.
Saat aku mengingat kembali masa kecilku, yang ulihat hanya ada reni di sana. Yang selalu memarahiku dan menemaniku setiap saat.
Aku melirik ke arah Reni dan sedikit tersenyum..
“tu-tunggu apa-apaan dengan senyummu itu? Menjijikan!!” reni berbicara dengan nada sinis.
“kenapa kau itu selalu begitu? Dasar”
***
Setelah kejadian serpihan satelit itu kami kembali ke lab, dan berusaha mencari sesuatu di sana tapi tak adapun yang tersisa.
“a....aaaaah~! ini percuma saja tak ada petunjuk apapun di sini!” aku menghela napasku sambil mengeluh.
“sudah diam dan cari saja! Ngomong-ngomong bagai mana kau bisa mengendalikan kekuatanmu?”
“ah itu! Sepertinya aku sudah tau konsepnya kekuatanku! Konsep dari kekuatan adalah bayangngan. Bayangan si pengguna untuk mengendalikannya!”
“apa-apan dengan cara mu menjelaskan itu? Itu malah tambah membingungkan.!”
“maaf saja ya! Aku hanya kurang pandai dalam hal menjelaskan.!” Aku membaringkan badanku di atas tanah.
Dari pada menggali di sini tidak jelas akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumha sakit, ke kamar dimana arin dirawat.  Rasa bersalahku kembali menggumpal.
Semua ini terasa berat bagiku, apa memang aku harus memaksakan semua ini? TAPI.... KENAPA AKU TAK BISA BERGERAK SEDIKITPUN?
“plakk!” pukulan dari reni membuatku melangkah kedepan.
“sudah sana pergi!” reni bernisik padaku.
Dengan sedikit dorongan dari reni aku membuka pintu kamarnya, disana terlihat jendela yang terbuka dan terlihat pemandangan laut dari sana. Hembusan angin terasa begitu tenang di sana. Cahaya matahari yang tak begitu terang tapi menenangkan.
Hanya seorang siswi sma di sana, tanpa ada yang menemaninya.
Terasa sangat hangat di dalam diriku, entah apa perasaan ini tapi semua bebanku hilang. Melihat arin tersenyum dan berkata.
“selamat pagi dika” arin tersenyum dengan tulus.
Semua beban dalam pikiranku tiba-tiba menghilang, semua tenagaku terkuras habis. Melihat dia tersenyum kembali.
sambil membenahi wajahku, kami menjelaskan apa yang sudah kami ketahui tentang gelang ini. Meskipun tidak terlalu banyaksih.
“hmm~ harus aku bilang apa ya?!” arin menggeleng-geleng kepalanya.
“kenapa memangnya?” aku sedikit bingung dengan tingkahnya itu.
“mungkin saja ini mengambil konsep bahwa manusia menggunakan 10% bagian otaknya jika kau bisa menggunakan sekitar 47% bagian otak maka khayalanmu bisa saja menjadi kenyataan.! Tapi teori ini banyak ditolak!.”
“..........??” aku sedikit bingung dengan penjelasan arin.
“artinya teori ini hanyalah kesalahan atau mungkin kebohongan! Kalau otak manusia hanya 10% maka kerusakan otak tak akan berarti.!”
“maaf aku tak bisa mengikuti perkataanmu!”
“dasar kau ini!” renii tiba tiba memukul kepalaku dari belakang.
“apa-apansih kau ini!” aku langsung berbicara kesal
“kau sangat menyebalkan! Jadi aku memukulmu menggantikan arin!”
“tu-kenapa harus begitu?”
“sudah kubilang kau itu menyebalkan!” sambil mengatakannya dia sekalilagi memukulku.
Esoknya secara ajaib arin sembuh dan keluar dari rumah sakit.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar